Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah
bersabda, “manakala Allah mencintai seseorang, Dia akan memanggil Jibril
seraya berkata, ‘Aku mencintai si Fulan. Wahai Jibril cintai pula dia’.
Jibril pun mencintai orang itu dan mengumumkannya kepada semua penduduk
langit. Allah mencintai si Fulan, maka cintai pula dia oleh kalian
semua,’ maka semua penduduk langit mencintai orang itu, dan kemudian dia
memperoleh kesenangan-kesenangan dari penduduk bumi’”. [HR Bukhari]
Bunga
adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa jadi ada makna
yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri tercintanya,
Fatimah Az Zahra. Az Zahra sendiri berarti "bunga". Tidaklah
mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding
saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu terlihat dari ungkapan
Rasulullah, "Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku
sedih, dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula".
"Bunga"
Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari ayahanda
Rasul yang baik, lemah lembut dan terpuji menjadikannya seorang gadis
yang juga penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan plus akhlak
terpuji meneladani sang ayah. Maka tidaklah aneh, bunga yang dinisbatkan
Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di kalangan
para sahabat Rasulullah.
Tercatat, beberapa sahabat utama
seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pernah mencoba melamar Fatimah.
Hanya saja, sayangnya dengan halus Rasulullah menolak lamaran para
sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali bin Abi Thalib untuk meminang
Fatimah. "Aku mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau, yaitu
Fatimah. Aku berkata: Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku
ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan diri untuk meminangnya".
Akhirnya, Rasulullah pun menerima pinangan Ali meski hanya
mempersembahkan baju besi al khuthaimah (yang juga merupakan pemberian
Rasul).
Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak
tanggung-tanggung yang mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia
agung nan mulia Muhammad Rasul Allah, yang memiliki segala keterpujian.
Bunga yang indah dengan segala keistimewaannya, harus dipelihara dan
dijaga oleh orang yang istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula,
dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu
Bakar dan Umar bin Khattab, yang keduanya kemudian berturut-turut
menjadi khalifah meneruskan perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul.
Lalu kenapa ayahanda sang bunga itu menolaknya?
Pertanyaan
selanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang juga
pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah? Meski
memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan
menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa
melihat sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini.
Ali adalah lelaki istimewa, masuk dalam assabiquunal awwaluun (golongan
pertama yang masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan
pernah menyangsikan lelaki satu ini. Perang badar yang diikuti oleh
seluruh manusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang
dengan gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kaum
kafir menantang untuk berduel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap
masih kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh
duelnya itu. Tidak sampai disitu, yang membuat Rasulullah tak bisa
melupakannya adalah jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul
tidur di pembaringannya saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke
luar saat hijrah. Padahal resikonya adalah mati terpenggal oleh
balatentara kafir yang telah mengepungnya.
Tentu masih
banyak dan tidak akan cukup satu halaman untuk mencatat kelebihan Ali
yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita tangkap secara
jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk lelaki istimewa.
Seperti halnya, "bunga" Fatimah yang hanya Ali bin Abi Thalib yang
diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan pernah
berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah menjadikan
diri ini istimewa. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar